Swasembada pangan adalah salah satu kebijakan prioritas pembangunan ekonomi pemerintahan Presiden Joko Widodo & Jusuf Kalla. Fokus pertanian ini berlaku secara umum dan menyeluruh. Fokus ini dipilih karena pemerintah menyadari benar bahwa sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja sangat besar. Ada sekitar 50% tenaga kerja di Indonesia terserap oleh sektor pertanian di pedesanaan.

Meski pemerintah fokus pada pertanian, bukan berarti sektor industri lain tidak diperhatikan. Sektor lain tetap menjadi perhatian pemerintah, cuma kadar atau tingkatannya tidak sebesar perhatiannya pada sektor pertanian. Ditetapkannya bidang pertanian sebagai prioritas pembangunan, tumbuh harapan baru, kebijakan industri, termasuk perdagangan selayaknya diarahkan atau difokuskan pada industri pertanian atau industri agro. Memang, pemberdayaan industri pertanian dengan segala cakupannya sangat terkait dan tergantung pada tingkat produktivitas sektor pertanian itu sendiri.

Sejauh mana produktivitas sektor pertanian dapat ditingkatkan? Jika industri berbasis sektor pertanian atau agro mau diprioritaskan, strategi apa yang perlu dilakukan? Mengapa penekanan pada produktivitas sektor pertanian ini penting? Karena, banyak komoditas pertanian menjadi bahan baku industri. Contoh, ubi atau gaplek untuk industri minuman keras, jagung untuk industri pengolahan jagung, kelapa sawit untuk industri minyak kelapa sawit dan sabun kecantikan, rami untuk bahan baku industri tekstil, tembakau untuk industri rokok, ikan, buah-buahan, cokelat, kopi, beras, dan tebu untuk industri gula sebagai bahan baku.

Akan tetapi, sejauh mana tingkat produktivitas sektor pertanian selama ini. Dari banyak kasus, tingkat produktivitas sektor pertanian masih lemah. Indikasinya adalah banyak komoditas pertanian yang diimpor, seperti produk jagung, garam, gula, kedelai, buah-buahan, tembakau, dan beras masih harus impor. Hal itu menunjukkan bahwa tingkat produksi masih kurang untuk bisa mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

Sebagai gambaran pada tahun 2014 nilai impor bahan baku dan bahan penolong mencapai 25,76 miliar dollar AS atau sebesar 79,54 %, impor barang modal sebesar 3,79 miliar dollar AS atau sebesar 11,71 %, impor barang konsumsi sebesar 2,83 miliar dollar AS atau sebesar 8,75 %.

Tingkat produktivitas yang masih relatif rendah itu juga dapat dilihat dari data ekspor hasil pertanian, dibandingkan dengan data ekspor hasil industri, pertambangan, dan migas. Dari data yang ada, pada tahun 2014 nilai ekspor hasil pertanian hanya sebesar 2,55 miliar dollar AS atau 4,19 % dari total nilai ekspor Indonesia. Sementara itu, nilai ekspor hasil industri sebesar 40,54 miliar dollar AS atau sebesar 66,45% dari total nilai ekspor Indonesia. Nilai ekspor hasil pertambangan sebesar 4,27 miliar dollar AS atau sebesar 7 % dan nilai ekpor hasil migas sebesar 13,64 miliar dollar AS atau sebesar 22,36 % dari total nilai ekspor.

Nilai ekspor dari masing-masing sektor pada tahun 2014 itu tidak jauh berbeda dengan nilai ekspor masing-masing sektor tersebut pada tahun 2010, yang nilai ekspor hasil pertanian sebesar 2,91 miliar dollar AS, hasil industri sebesar 32,12 miliar dollar AS, dan hasil migas sebesar 11,72 miliar dollar AS. Mengapa tingkat produltivitas sektor pertanian masih lemah? Banyak faktor penyebabnya, misalnya, dari masalah pembibitan dan pengembangan teknologi atau penanganan pasca panen yang terkait dengan Kementerian Pertanian. Sistem atau mata rantai pemasaran komoditas pertanian yang panjang, terkait dengan Kemnterian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.

Sementara itu mengenai masalah ketersedaiaan pupuk dengan harga terjangkau, itu terkait dengan kantor Menneg BUMN, Kementerian Pertanian dan Perdagangan. Masalah kebijakan fiskal, seperti pajak pertambahan nilai (PPN) komoditas agro terkait dengan Kementerian Keuangan. Tidak kalah pentingnya, masalah kredit bagi petani menyangkut kebijakan perbankan nasional. Juga kredit bagi industri pendukung dan pengolahan hasil pertanian.

Produktivitas sektor pertanian lemah karena petani atau sektor pertanian selama ini belum menjadi subyek, melainkan hanya menjadi alat kelompok tertentu dan masyarakat lain. Hal itu berarti, perhatian dan kebijakan konkret pemerintah masih kurang dalam mengembangkan sektor pertanian dan industri berbasis sektor pertanian. Contoh konkret, harga komoditas, seperti kakao, tembakau, dan gula sering kali jatuh dan ditekan pedagang, pemerintah cenderung diam dan tidak menanggapi secara serius. Petani selama ini sudah bekerja keras untuk berproduksi dan berupaya meningkatkan produktivitas. Namun, belum ada kebijakan untuk memberdayakan dan melindungi petani. Misalnya, sulitnya petani mendapat kredit dibandingkan pelaku usaha di sektor non pertanian. (sumber: http://majalahukm.com)

Melihat hal itu, pelatihanukm.com menyelenggarakan pelatihan berbasis pengolahan pertanian, dengan tujuan:

  • Mengolah bahan baku hasil pertanian menjadi produk siap jual
  • Menyiapkan masyarakat yang berproduktif
  • Pemberdayaan Masyarakat Kecil

Untuk info lebi lanjut hubungi kami:
CV. RIZQI INTAN ABADI
Ruko Perumahan Buana Gardenia
Jl. Buana Agung Raya Blok A No 26
Pinang Kota Tangerang, Banten 15145
E-mail: admin@pelatihanukm.com
HP: 0815-1424-2348 | 0813-1113-2482