Di tengah hiruk pikuknya jualan online, ternyata masih banyak UKM (Usaha Kecil Menengah) yang belum terlalu melek digital marketing.

Dengan mendengarkan pengalaman UKM yang telah sukses membangun bisnis dengan dukungan digital marketing tentu akan lebih mudah bagi para UKM untuk menerapkannya. Inilah yang digagas Novaon Indonesia melalui Seminar “Sukses Kembangkan Wirausaha Kecil di Era Digital (branding, digital & performance marketing, leads generation to convertions)”.

Pada seminar yang diadakan di The Kasablanka Jakarta (13/09/2017) Fahmi Hendrawan, pendiri Fatih Raya yang bergerak di bisnis fashion sebagai salah satu UKM yang sukses membangun bisnis melalui digital marketing mengungkapkan kiat-kiatnya. “Saya tidak mau disebut sebagai desainer karena memang latar belakang saya bukan di sana. Saya lebih pas disebut sebagai fashion entrepreneur, bisnis ini saya bangun bersama Maulana Muhammad sebagai CMO,” terangnya.

Ia menceritakan lulus dari kuliah di IPB sempat beberapa tahun bekerja di bank dengan posisi terakhir sebagai manajer customer relation. Beberapa tahun sebagai karyawan, ternyata membuatnya jenuh, Fahmi mulai mencoba bisnis kecil-kecilan mulai dari penjual donat hingga wedding organizer pada 2013.

“Bisnis saya kurang berhasil di awal-awal karena apa saja diambil, tidak fokus, target saya waktu awal buat bisnis ingin punya uang banyak,” kenangnya.  Pria single ini kemudian mulai mengubah mind set. Pada 2015 mulai menemukan passion di industri fesyen. Fahmi yang sekarang sedang menyelesaikan master bisnis di ITB School of Business ini mulai setting mind set baru yaitu ingin memberi ke lebih banyak pada banyak orang.

Ia mulai melakukan riset pasar. Ternyata Indonesia ini memiliki potensi sebagai pusat fesyen dunia. Diperkirakan nilai industri fesyen muslim dunia pada 2018 akan mencapai US$ 22,85 dolar. Sekitar 80 persen dari nilai tersebut potensinya ada di sini. Meskipun dari total nilai tersebut nilai fesyen muslimah (wanita) lebih besar sekitar US$ 17,13 juta, Fahmi dalam risetnya menemukan peluang di fesyen mulim pria.

“Pemainnya masih sedikit di Indonesia. Coba sebut saja, hanya sedikit brand fesyen khusus pria, apalagi lokal. Maka yang menggarap khusus muslim lebih sedikit lagi,” katanya. Maka itu ia memutuskan fokus di produk fesyen muslim dan berbagai produk halal.  “Nilai fesyen muslim pria itu sekitar 5,17 juta dolar, saya ambil sebagian saja cukup besar nilainya,” katanya.

Pada Ramadhan 2015, merek fesyen pria muslim di bawah merek Fatih Raya diluncurkan.  “Saya menggunakan berbagai kesempatan bazar dan instagram untuk menjual produk saya. Luar biasa,  penjualan di tahun pertama Fatih raya mencapai Rp 150 juta,” kata pria yang menggandeng 12 penjahit dan mengajak anak yatim untuk membantu usahanya.

“Kunci sukses selain fokus di produk, juga pada pendalaman saya mencari produk yang tidak hadir di masyarakat, yang masyarakat terutama laki-laki modern saat ini inginkan. Selama enam bulan saya pelajari khusus tentang ini, baru kemudian launching,” terangnya. Hasilnya, penjualan dari Instagram saja dia berhasil tembus bulan lalu 1000 unit.

Ia mengungkapkan, yang menjadi ciri khas baju muslim pria yang ditawarkannya adalah menggunakan batik dengan desain sangat modern dan kekinian. Ini membuat pria muda yang enggan menggunakan batik mau memilih Fatih Raya karena desainnya yang unik. Promosi dia banyak gunakan media massa dan endorser di media sosial. “Kita kasih saya produk ke endorser yang banyak followernya agar produk kita dipromosikan di akun media sosial mereka,” katanya.

Lalu ia mencoba menawarkan kerja sama dengan stasiun televisi besar, untuk menggunakan baju batiknya untuk para anchor pria. “Saya pinjamkan saja, nanti setelah selesai dikembalikan, ini ternyata membawa impack lumayan besar untuk promosi,” ujarnya.

Pria yang akan mendalami ilmu bisnis fesyen di luar negeri ini, menuturkan kunci ketiga kesuksesan bisnisnya adalah membangun tim yang kuat. “Dan yang paling utama dalam bisnsi adalah selalu melibatkan Tuhan,” tegasnya.

Ergintianus Julianta,Business Development Director Novaon Indonesia, mengamini yang dipaparkan Fahmi. “Selain itu para UKM harus paham dulu mengapa dia harus masuk ke digital marketing, lalu tentukan segmentasinya dan harus paham tujuan produknya ke arah mana. Ini penting agar tidak terlalu kemana-mana, fokus itu penting,” terangnya.

Iim Rusyamsi, Co-founder Krafie.com menegaskan hal yang sama pentingnya pemahaman di era digital. “Pemilik UKM harus sadar, bahwa masuk ke digital marketing berarti harus siap bekerja 24 jam,” ujar salah satu pendiri Komunitas Tangan di Atas (TDA) ini. Kunci selanjutnya adalah fokus.  E-commerce yang dibangun sejak 2015, Krafie.com ini fokus membantu pengrajin Indonesia masuk dunia digital.

sumber: https://swa.co.id

Kategori: Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *